Gaya Hidup Sehat & Produktif Kesehatan Mental & Emosional Pola Hidup

Doomscrolling Jadi Ancaman Baru Kesehatan Gen Z, Kebiasaan Scroll Berita Negatif yang Sulit Dihentikan

Generasi Z tumbuh di era ketika informasi bergerak lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Berita dari berbagai belahan dunia dapat diakses dalam hitungan detik melalui smartphone yang selalu berada di genggaman. Media sosial, portal berita, video pendek, hingga aplikasi pesan instan membuat arus informasi mengalir tanpa henti selama 24 jam sehari.

Di balik kemudahan tersebut, muncul sebuah fenomena yang kini mulai menjadi perhatian para ahli kesehatan mental dan perilaku manusia, yaitu doomscrolling. Istilah ini merujuk pada kebiasaan terus-menerus membaca atau melihat informasi negatif di internet meskipun aktivitas tersebut membuat seseorang merasa cemas, stres, atau tidak nyaman.

Fenomena doomscrolling semakin banyak ditemukan pada Generasi Z yang dikenal sebagai kelompok paling aktif dalam menggunakan perangkat digital. Banyak anak muda mengaku menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca berita buruk, konflik sosial, isu ekonomi, bencana, hingga berbagai informasi yang memicu kekhawatiran.

Yang menarik, sebagian besar pelaku doomscrolling sebenarnya sadar bahwa aktivitas tersebut membuat mereka tidak nyaman. Namun mereka tetap melanjutkannya karena merasa perlu terus mengetahui perkembangan terbaru.

Lalu mengapa doomscrolling begitu sulit dihentikan? Dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan?

Apa Itu Doomscrolling?

Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara berlebihan melalui perangkat digital.

Aktivitas ini biasanya terjadi ketika seseorang:

  • Membaca berita buruk tanpa henti.
  • Terus mengikuti perkembangan krisis tertentu.
  • Menghabiskan waktu lama melihat konten yang memicu kecemasan.
  • Berpindah dari satu informasi negatif ke informasi negatif lainnya.
  • Sulit berhenti membuka media sosial meskipun merasa stres.

Fenomena ini semakin umum sejak media sosial menggunakan algoritma yang mampu menyajikan konten sesuai minat pengguna.

Ketika seseorang menunjukkan ketertarikan pada suatu isu tertentu, platform digital akan menampilkan lebih banyak konten serupa sehingga menciptakan siklus konsumsi informasi yang berulang.

Mengapa Gen Z Rentan Mengalami Doomscrolling?

Beberapa faktor membuat Generasi Z lebih rentan terhadap kebiasaan ini dibandingkan kelompok usia lainnya.

1. Selalu Terhubung dengan Internet

Sebagian besar Gen Z memiliki akses internet hampir sepanjang hari.

Smartphone menjadi alat utama untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, dan mencari hiburan.

Akibatnya, peluang terpapar informasi negatif menjadi jauh lebih besar.

2. Keinginan untuk Selalu Update

Banyak anak muda merasa perlu mengetahui setiap perkembangan terbaru agar tidak tertinggal informasi.

Kondisi ini sering disebut sebagai Fear of Missing Out atau FOMO.

3. Algoritma Media Sosial

Platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Konten yang memicu emosi kuat sering kali mendapatkan tingkat keterlibatan lebih tinggi sehingga lebih sering muncul di beranda.

4. Rasa Ingin Tahu yang Tinggi

Gen Z dikenal sebagai generasi yang aktif mencari informasi.

Namun tanpa pengelolaan yang baik, rasa ingin tahu tersebut dapat berubah menjadi konsumsi informasi yang berlebihan.

Bagaimana Doomscrolling Memengaruhi Otak?

Ketika seseorang terus-menerus terpapar berita negatif, otak akan merespons informasi tersebut sebagai potensi ancaman.

Tubuh kemudian mengaktifkan sistem stres yang melibatkan berbagai hormon, termasuk kortisol.

Dalam jangka pendek, respons ini sebenarnya membantu manusia tetap waspada.

Namun ketika terjadi terus-menerus, dampaknya dapat menjadi masalah.

Otak mulai berada dalam kondisi siaga berkepanjangan yang membuat seseorang lebih mudah merasa:

  • Cemas.
  • Gelisah.
  • Sulit rileks.
  • Sulit fokus.
  • Mudah lelah secara mental.

Inilah alasan mengapa banyak orang merasa tidak nyaman setelah terlalu lama membaca berita negatif.

Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental

Meningkatkan Tingkat Kecemasan

Paparan informasi negatif yang berulang dapat membuat seseorang merasa dunia berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk daripada kenyataannya.

Memicu Overthinking

Banyak orang terus memikirkan berbagai kemungkinan buruk setelah membaca berita tertentu.

Menurunkan Mood

Konten negatif yang dikonsumsi terus-menerus dapat memengaruhi suasana hati sehari-hari.

Meningkatkan Risiko Burnout Mental

Otak membutuhkan waktu untuk beristirahat dari rangsangan emosional yang berat.

Ketika waktu pemulihan tidak tersedia, kelelahan mental dapat terjadi.

Dampak terhadap Kesehatan Fisik

Tidak hanya memengaruhi psikologis, doomscrolling juga dapat berdampak pada kesehatan fisik.

Gangguan Tidur

Banyak Gen Z melakukan doomscrolling sebelum tidur.

Paparan informasi yang memicu stres membuat otak tetap aktif sehingga sulit memasuki fase tidur yang berkualitas.

Ketegangan Otot

Stres berkepanjangan dapat menyebabkan ketegangan pada leher, bahu, dan punggung.

Kelelahan Kronis

Kurangnya kualitas tidur dan tingginya stres dapat membuat tubuh mudah lelah.

Sakit Kepala

Kombinasi antara stres dan penggunaan layar yang berlebihan sering memicu keluhan sakit kepala.

Fenomena Doomscrolling Sebelum Tidur

Salah satu kebiasaan yang paling sering ditemukan adalah membuka media sosial saat akan tidur.

Awalnya hanya ingin melihat beberapa informasi terbaru.

Namun tanpa disadari, seseorang bisa menghabiskan waktu hingga satu atau dua jam membaca berbagai berita dan komentar.

Akibatnya:

  • Waktu tidur menjadi lebih pendek.
  • Kualitas tidur menurun.
  • Tubuh kurang segar saat bangun pagi.
  • Produktivitas keesokan harinya terganggu.

Fenomena ini kini menjadi salah satu perhatian utama dalam kesehatan digital.

Tanda-Tanda Anda Sudah Terjebak Doomscrolling

Beberapa gejala berikut dapat menjadi indikasi bahwa seseorang mulai mengalami kebiasaan doomscrolling.

  • Sulit berhenti membaca berita negatif.
  • Merasa cemas setelah menggunakan media sosial.
  • Sering mengecek perkembangan isu tertentu.
  • Kehilangan banyak waktu hanya untuk scrolling.
  • Sulit tidur setelah melihat berita.
  • Merasa lelah secara emosional.
  • Tetap membuka aplikasi meski tidak mendapatkan manfaat nyata.

Mengapa Informasi Negatif Lebih Menarik?

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan yang disebut negativity bias.

Otak secara alami lebih memperhatikan ancaman dibandingkan informasi positif.

Mekanisme ini membantu nenek moyang manusia bertahan hidup.

Namun dalam dunia digital modern, kecenderungan tersebut justru membuat seseorang lebih mudah terpancing oleh berita negatif.

Akibatnya, konten yang memicu rasa takut atau khawatir sering mendapatkan perhatian lebih besar.

Cara Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling

Kabar baiknya, doomscrolling dapat dikendalikan melalui beberapa langkah sederhana.

Batasi Waktu Konsumsi Berita

Tentukan waktu khusus untuk membaca berita dan hindari melakukannya sepanjang hari.

Hindari Media Sosial Sebelum Tidur

Berikan jeda minimal satu jam sebelum waktu tidur.

Pilih Sumber Informasi yang Kredibel

Menghindari informasi yang sensasional dapat membantu mengurangi stres yang tidak perlu.

Perbanyak Aktivitas Offline

Olahraga, membaca buku, berjalan kaki, atau melakukan hobi dapat menjadi alternatif yang lebih sehat.

Aktifkan Batas Penggunaan Aplikasi

Banyak smartphone menyediakan fitur untuk membatasi durasi penggunaan media sosial.

Gen Z dan Tantangan Kesehatan Digital

Doomscrolling merupakan salah satu contoh bagaimana kemajuan teknologi membawa tantangan kesehatan yang sebelumnya tidak pernah ada.

Generasi Z berada di garis depan perubahan tersebut karena mereka hidup dalam lingkungan yang sangat terhubung secara digital.

Di satu sisi, akses informasi memberikan banyak manfaat.

Namun di sisi lain, kemampuan mengelola informasi menjadi keterampilan yang semakin penting.

Masa Depan Kesehatan di Era Informasi

Para ahli memprediksi bahwa kesehatan digital akan menjadi salah satu isu kesehatan terbesar dalam dekade mendatang.

Selain menjaga pola makan, olahraga, dan tidur, masyarakat juga perlu belajar mengelola konsumsi informasi.

Kesehatan tidak lagi hanya ditentukan oleh apa yang masuk ke dalam tubuh, tetapi juga oleh apa yang masuk ke dalam pikiran setiap hari.

Kesimpulan

Doomscrolling Gen Z menjadi fenomena kesehatan modern yang semakin mendapat perhatian. Kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif dapat meningkatkan kecemasan, mengganggu kualitas tidur, menurunkan produktivitas, serta memengaruhi kesehatan fisik dan mental.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk mengatur konsumsi konten menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat. Membatasi waktu penggunaan media sosial, memilih sumber informasi yang terpercaya, dan menyediakan waktu untuk aktivitas offline dapat membantu menjaga keseimbangan kesehatan di era modern.

Bagi Generasi Z, kesehatan optimal bukan hanya soal menjaga tubuh tetap bugar, tetapi juga menjaga pikiran tetap sehat di tengah banjir informasi yang tidak pernah berhenti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *