Cara menjaga kesehatan mata di era digital bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Kenali tips mengurangi mata lelah, mengatur layar, pencahayaan, dan waktu istirahat.
Coba perhatikan rutinitas sehari-hari.
Bangun tidur, tangan mencari smartphone.
Sebelum sarapan, sudah membaca pesan.
Ketika bekerja, mata berjam-jam menatap monitor.
Saat istirahat, kembali membuka ponsel.
Malam hari, televisi atau laptop menjadi teman sebelum tidur.
Tanpa disadari, mata bisa menghabiskan sebagian besar hari untuk melihat layar.
Teknologi memang membuat kehidupan jauh lebih mudah. Kita dapat bekerja, belajar, berkomunikasi, berbelanja, bermain game, bahkan memantau kesehatan melalui perangkat digital.
Namun, penggunaan layar yang panjang juga dapat membuat mata terasa tidak nyaman.
Keluhan seperti mata kering, pandangan kabur sementara, sakit kepala, mata terasa berat, atau sulit mempertahankan fokus dapat muncul pada sebagian pengguna. Kondisi yang berkaitan dengan penggunaan komputer, tablet, dan smartphone ini sering disebut digital eye strain. American Optometric Association menjelaskan bahwa penggunaan perangkat digital dalam waktu lama dapat meningkatkan beban pada sistem penglihatan dan memicu berbagai keluhan tersebut.
Kabar baiknya, Anda tidak harus meninggalkan teknologi.
Yang perlu diubah adalah cara menggunakannya.
Berikut kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan.
1. Terapkan Aturan 20-20-20
Salah satu cara sederhana untuk memberikan jeda pada mata adalah aturan 20-20-20.
Caranya:
Setiap 20 menit, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter.
Aturan ini direkomendasikan American Optometric Association sebagai salah satu kebiasaan untuk membantu mengurangi digital eye strain.
Tidak perlu mencari objek khusus.
Bisa melihat keluar jendela.
Melihat tanaman.
Melihat benda di ujung ruangan.
Yang penting, mata tidak terus-menerus mempertahankan fokus pada jarak dekat.
Masalahnya, banyak orang terlalu tenggelam dalam pekerjaan hingga lupa beristirahat.
Karena itu, gunakan alarm atau pengingat pada komputer jika diperlukan.
2. Jangan Menunggu Mata Sakit Baru Beristirahat
Ada kebiasaan yang cukup umum:
“Nanti istirahat kalau pekerjaan selesai.”
Masalahnya, pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai.
Satu email datang.
Kemudian ada rapat.
Setelah itu harus membuat laporan.
Belum lagi pesan dari rekan kerja.
Akhirnya tiga jam berlalu tanpa jeda.
Mata memiliki kesempatan yang sangat sedikit untuk beristirahat.
Jadi, jangan menjadikan rasa sakit sebagai alarm.
Berikan jeda secara berkala meskipun mata belum terasa bermasalah.
3. Ingat untuk Berkedip
Kedengarannya sederhana.
Tetapi ketika seseorang fokus melihat layar, frekuensi berkedip dapat berkurang.
Akibatnya, permukaan mata bisa menjadi lebih kering dan tidak nyaman.
American Optometric Association memasukkan kebiasaan berkedip dan mengambil jeda sebagai bagian dari strategi mengurangi keluhan akibat penggunaan layar.
Cobalah menyadari kebiasaan ini ketika bekerja.
Sesekali tutup mata selama beberapa detik.
Kemudian berkedip secara normal.
Tidak perlu memaksakan berkedip dengan cara yang aneh.
Cukup jangan terlalu lama menatap layar tanpa jeda.
4. Atur Jarak Monitor
Posisi layar juga penting.
Monitor yang terlalu dekat dapat membuat mata bekerja lebih keras untuk mempertahankan fokus.
Pastikan posisi monitor terasa nyaman dan Anda tidak harus membungkuk atau mendekatkan wajah ke layar untuk membaca.
Jika tulisan terlalu kecil, perbesar ukuran teks.
Jangan mengatasi tulisan kecil dengan mendekatkan wajah ke monitor.
Kenyamanan visual harus menjadi prioritas.
5. Perhatikan Ketinggian Layar
Bukan hanya mata yang bisa lelah.
Leher dan bahu juga dapat bermasalah ketika posisi monitor tidak tepat.
Jika layar terlalu rendah, Anda mungkin terus menundukkan kepala.
Jika terlalu tinggi, leher bisa terasa tegang.
Atur posisi layar sehingga Anda dapat melihatnya dengan nyaman tanpa harus terus-menerus mengubah posisi kepala.
Ergonomi yang baik bukan hanya membuat meja terlihat rapi.
Ia membantu tubuh bekerja dengan lebih nyaman.
6. Jangan Membuat Layar Terlalu Terang
Pernah masuk ke ruangan gelap kemudian membuka smartphone dengan tingkat kecerahan maksimum?
Rasanya seperti melihat lampu sorot.
Pengaturan kecerahan layar sebaiknya disesuaikan dengan kondisi ruangan.
Jika ruangan terang, layar mungkin perlu lebih terang.
Jika ruangan redup, kecerahan bisa dikurangi.
Tujuannya bukan membuat layar selalu sangat gelap.
Tujuannya adalah menghindari kontras yang terlalu mengganggu.
7. Kurangi Pantulan Cahaya
Pantulan dari jendela atau lampu dapat membuat layar sulit dilihat.
Akibatnya, Anda mungkin menyipitkan mata atau mengubah posisi tubuh untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih baik.
American Optometric Association mencatat bahwa pencahayaan yang buruk dan glare atau pantulan pada layar dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap digital eye strain.
Coba perhatikan posisi:
- meja;
- monitor;
- jendela;
- lampu;
- dan sumber cahaya lainnya.
Perubahan kecil pada posisi meja terkadang sudah cukup membantu.
8. Jangan Membaca Tulisan yang Terlalu Kecil
Smartphone modern memiliki layar kecil tetapi resolusi tinggi.
Akibatnya, tulisan bisa terlihat sangat kecil.
Daripada memaksakan mata membaca teks berukuran mini, gunakan fitur font size atau display size.
Perbesar teks sampai nyaman.
Ini terutama berguna ketika membaca artikel panjang atau dokumen kerja.
Membuat teks lebih besar bukan berarti perangkat Anda bermasalah.
Justru itu salah satu cara menyesuaikan perangkat dengan kebutuhan mata.
9. Bersihkan Layar Secara Berkala
Layar yang penuh sidik jari dan debu dapat mengurangi kenyamanan ketika melihat.
Anda mungkin tidak menyadarinya.
Namun ketika layar kotor, kontras dan kejernihan tampilan dapat terasa berbeda.
Bersihkan layar menggunakan metode yang sesuai dengan rekomendasi produsen perangkat.
Hindari menggunakan bahan atau cairan yang dapat merusak lapisan layar.
Kebersihan perangkat merupakan hal kecil, tetapi mudah dilakukan.
10. Jangan Mengandalkan Kacamata Filter Cahaya Biru sebagai Solusi Utama
Kacamata dengan klaim penyaring cahaya biru sangat populer.
Namun jangan menganggapnya sebagai solusi ajaib untuk semua masalah akibat penggunaan layar.
Keluhan digital eye strain dipengaruhi banyak faktor, termasuk durasi penggunaan, jarak pandang, pencahayaan, glare, posisi kerja, dan masalah penglihatan yang belum dikoreksi.
Artinya, mengganti kacamata saja tidak otomatis menyelesaikan masalah jika Anda masih menatap layar berjam-jam tanpa jeda dengan posisi kerja yang buruk.
Lebih masuk akal memperbaiki kebiasaan terlebih dahulu.
11. Jangan Menggunakan Smartphone Terlalu Dekat dengan Wajah
Kebiasaan ini sering terjadi ketika seseorang menggunakan smartphone sambil berbaring.
Layar didekatkan ke wajah.
Kemudian pengguna membaca atau menonton selama puluhan menit.
Cobalah mempertahankan jarak yang nyaman.
Jika tulisan sulit dibaca dari jarak normal, perbesar teks.
Jangan terus mendekatkan smartphone.
12. Hindari Menatap Layar dalam Posisi yang Tidak Nyaman
Bermain smartphone sambil tengkurap.
Berbaring miring.
Menundukkan kepala selama satu jam.
Semua terlihat sepele.
Namun posisi tersebut dapat membuat leher dan bahu cepat lelah.
Digital eye strain sendiri dapat disertai keluhan seperti sakit kepala dan ketidaknyamanan pada area leher atau bahu.
Karena itu, menjaga kesehatan mata sebaiknya sekaligus memperhatikan postur tubuh.
13. Berikan Mata Waktu untuk Melihat Jauh
Manusia modern menghabiskan banyak waktu melakukan pekerjaan jarak dekat.
Laptop.
Smartphone.
Buku.
Tablet.
Dokumen.
Salah satu cara sederhana untuk memecah rutinitas tersebut adalah memberikan kesempatan kepada mata untuk melihat objek yang lebih jauh.
Saat istirahat, jangan langsung berpindah dari monitor ke smartphone.
Itu bukan benar-benar istirahat untuk mata.
Jika Anda baru saja bekerja di depan laptop, istirahat dengan melihat keluar jendela atau berjalan sebentar.
Dengan begitu, jarak fokus berubah.
14. Gunakan Waktu Istirahat untuk Berjalan
Ada kesalahan yang sering dilakukan.
Istirahat dari laptop bukan berarti harus membuka smartphone.
Misalnya:
09.00–12.00 bekerja di laptop.
12.00 istirahat.
Kemudian tiga puluh menit scrolling smartphone.
Secara mental mungkin terasa seperti istirahat.
Namun mata masih melihat layar.
Cobalah menggunakan sebagian waktu istirahat untuk:
- berjalan;
- minum;
- melihat lingkungan sekitar;
- berbicara dengan rekan kerja;
- atau sekadar duduk tanpa layar.
Ini jauh lebih bermanfaat daripada mengganti satu layar dengan layar lainnya.
15. Atur Penggunaan Layar Sebelum Tidur
Layar bukan hanya berkaitan dengan kenyamanan mata.
Penggunaan perangkat menjelang tidur juga dapat memengaruhi rutinitas malam.
American Optometric Association menyarankan menghentikan aktivitas komputer atau gaming setidaknya satu jam sebelum tidur dalam panduan kesehatan layar mereka.
Tidak semua orang dapat langsung melakukan satu jam tanpa perangkat.
Jika sulit, mulai dari 15–20 menit.
Kemudian tambah secara perlahan.
Tujuannya menciptakan transisi dari aktivitas digital menuju waktu istirahat.
16. Jangan Lupa Aktivitas di Luar Ruangan
Kehidupan digital membuat seseorang dapat menghabiskan hampir seluruh hari di dalam ruangan.
Bangun.
Naik kendaraan.
Duduk di kantor.
Menatap monitor.
Pulang.
Menatap smartphone.
Menonton televisi.
Kemudian tidur.
Cobalah menyisipkan aktivitas di luar ruangan.
Berjalan kaki.
Berolahraga.
Berkebun.
Duduk di halaman.
Atau sekadar menikmati udara luar.
Selain memberi jeda dari layar, aktivitas fisik juga merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat.
SehatOptimal sebelumnya menekankan bahwa aktivitas fisik dan rutinitas sehat menjadi bagian penting dari pendekatan kesehatan preventif modern.
17. Jangan Mengabaikan Mata Kering
Mata terasa seperti berpasir?
Perih?
Seperti ada benda asing?
Sering berkedip?
Atau mata terasa panas setelah bekerja di depan komputer?
Keluhan tersebut bisa berkaitan dengan mata kering atau digital eye strain.
Namun jangan langsung melakukan diagnosis sendiri.
Jika keluhan sering muncul atau semakin mengganggu, pemeriksaan mata dapat membantu mengetahui penyebabnya.
18. Periksa Penglihatan Jika Tulisan Selalu Terasa Kabur
Ada perbedaan antara mata lelah setelah bekerja lama dan masalah penglihatan yang belum dikoreksi.
Jika Anda harus:
- menyipitkan mata;
- mendekatkan layar;
- sering menggosok mata;
- mengalami sakit kepala ketika membaca;
- atau kesulitan melihat tulisan meski sudah memperbesar layar,
pertimbangkan pemeriksaan mata.
American Optometric Association menyebutkan bahwa masalah penglihatan yang tidak dikoreksi dapat memperburuk gejala digital eye strain.
19. Jangan Menunda Pemeriksaan Mata
Banyak orang baru memeriksakan mata ketika penglihatannya terasa sangat terganggu.
Padahal pemeriksaan mata dapat menjadi bagian dari perawatan kesehatan secara keseluruhan.
Kebutuhan pemeriksaan berbeda berdasarkan usia, kondisi mata, faktor risiko, serta rekomendasi profesional kesehatan.
Jangan membuat jadwal pemeriksaan hanya berdasarkan satu aturan yang berlaku untuk semua orang.
Jika memiliki keluhan atau faktor risiko tertentu, tanyakan kepada dokter mata atau optometris mengenai jadwal yang sesuai.
20. Kenali Tanda yang Tidak Boleh Diabaikan
Tidak semua masalah mata disebabkan oleh terlalu lama menatap layar.
Karena itu, jangan menganggap semua gejala sebagai “mata capek karena HP.”
Cari pertolongan medis segera jika mengalami gejala serius seperti:
- kehilangan penglihatan secara tiba-tiba;
- nyeri mata berat;
- cedera mata;
- melihat kilatan cahaya baru yang mengganggu;
- muncul banyak floaters secara mendadak;
- atau perubahan penglihatan yang signifikan.
Gejala seperti itu membutuhkan evaluasi profesional dan tidak sebaiknya ditangani hanya dengan mengurangi screen time.
21. Jangan Mengucek Mata Terlalu Sering
Ketika mata terasa gatal atau lelah, respons otomatis sebagian orang adalah menguceknya.
Padahal, mengucek mata berulang kali bukan kebiasaan yang baik.
Jika mata terasa tidak nyaman, coba berhenti dari aktivitas layar terlebih dahulu.
Berkedip.
Beristirahat.
Dan jika keluhan menetap, periksakan.
22. Atur Meja Kerja agar Mendukung Kesehatan
Meja kerja yang sehat tidak harus mahal.
Yang penting:
Monitor: posisi nyaman.
Kursi: mendukung postur.
Keyboard dan mouse: mudah dijangkau.
Pencahayaan: tidak menyebabkan silau.
Layar: bersih dan mudah dibaca.
Jarak: tidak terlalu dekat.
Lingkungan kerja yang baik membantu mengurangi beban fisik selama bekerja.
23. Jangan Memaksakan Diri Bekerja Tanpa Jeda
Ada anggapan bahwa orang produktif adalah orang yang mampu bekerja berjam-jam tanpa berhenti.
Padahal produktivitas tidak selalu berarti duduk terus-menerus.
Jeda singkat dapat menjadi bagian dari strategi kerja.
Misalnya:
25 menit fokus → 5 menit jeda.
Atau:
50 menit bekerja → 10 menit istirahat.
Tidak ada satu pola yang wajib digunakan semua orang.
Pilih metode yang sesuai dengan pekerjaan Anda.
Yang penting, jangan membiarkan mata menatap layar terus-menerus tanpa jeda.
24. Bagaimana dengan Anak-Anak?
Perhatian terhadap penggunaan layar menjadi semakin penting pada anak.
Namun pendekatannya tidak cukup hanya mengatakan:
“Jangan main HP.”
Anak menggunakan perangkat untuk berbagai kebutuhan, termasuk pendidikan.
American Academy of Pediatrics juga menyoroti bahwa penggunaan layar yang panjang dapat berkaitan dengan keluhan seperti mata lelah, penglihatan kabur, dan mata kering, sementara jeda dan aktivitas di luar ruangan dapat menjadi bagian dari kebiasaan yang lebih sehat.
Orang tua dapat membantu dengan:
- membuat waktu tanpa layar;
- mendorong aktivitas luar ruangan;
- mengajarkan jeda;
- memastikan pencahayaan baik;
- dan memperhatikan keluhan penglihatan anak.
25. Jangan Menjadikan Screen Time sebagai Musuh
Teknologi bukan musuh kesehatan.
Masalahnya adalah penggunaan yang tidak teratur.
Laptop memungkinkan seseorang bekerja dari rumah.
Smartphone memudahkan komunikasi.
Tablet membantu belajar.
Game dapat menjadi hiburan.
Teknologi kesehatan bahkan dapat membantu seseorang memantau aktivitas dan kebiasaan.
SehatOptimal juga sebelumnya membahas semakin terintegrasinya teknologi dalam dunia kesehatan.
Jadi, pendekatan yang lebih masuk akal bukan:
“Hindari semua layar.”
Melainkan:
“Gunakan layar dengan cara yang lebih sehat.”
Rutinitas 5 Menit untuk Mata Saat Bekerja
Jika Anda bekerja di depan komputer setiap hari, coba pola sederhana ini.
Menit 1
Berhenti mengetik dan jauhkan pandangan dari monitor.
Menit 2
Lihat objek yang jauh.
Menit 3
Berkedip secara normal dan rilekskan mata.
Menit 4
Berdiri dan ubah posisi tubuh.
Menit 5
Minum air atau berjalan sebentar.
Setelah itu, kembali bekerja.
Tidak perlu meninggalkan pekerjaan selama setengah jam.
Jeda kecil tetapi konsisten jauh lebih realistis.
Checklist Kesehatan Mata untuk Pengguna Gadget
Simpan daftar berikut:
☐ Saya mengambil jeda dari layar secara berkala.
☐ Saya mencoba menerapkan aturan 20-20-20.
☐ Ukuran tulisan di layar cukup besar.
☐ Monitor berada pada posisi nyaman.
☐ Ruangan tidak terlalu gelap atau terlalu silau.
☐ Saya tidak menatap smartphone terlalu dekat.
☐ Saya tidak menghabiskan semua waktu istirahat dengan layar lain.
☐ Saya rutin melakukan aktivitas di luar ruangan.
☐ Saya memperhatikan jika muncul perubahan penglihatan.
☐ Saya tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami keluhan yang menetap.
Tidak perlu mendapatkan sepuluh centang sekaligus.
Mulai dari dua atau tiga kebiasaan.
Kesimpulan
Cara menjaga kesehatan mata di era digital bukan berarti harus membuang smartphone, berhenti bekerja dengan komputer, atau menghindari teknologi.
Justru teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Yang perlu diperbaiki adalah kebiasaan ketika menggunakannya.
Berikan mata jeda.
Terapkan aturan 20-20-20.
Jaga jarak pandang.
Atur pencahayaan.
Perbesar tulisan jika diperlukan.
Kurangi pantulan pada layar.
Ingat untuk berkedip.
Perhatikan posisi tubuh.
Dan gunakan waktu istirahat untuk benar-benar menjauh dari layar, bukan sekadar berpindah dari laptop ke smartphone.
Digital eye strain dapat menimbulkan keluhan seperti mata kering, mata lelah, sakit kepala, penglihatan kabur, serta ketidaknyamanan pada area leher dan bahu. Faktor seperti durasi penggunaan, pencahayaan, glare, jarak pandang, postur, dan masalah penglihatan yang belum dikoreksi juga dapat berperan.
Namun satu hal penting perlu diingat:
Tidak semua keluhan mata berasal dari layar.
Jika penglihatan berubah secara tiba-tiba, muncul nyeri berat, terjadi cedera mata, atau ada perubahan visual yang signifikan, jangan hanya beristirahat dari smartphone dan berharap masalah hilang.
Periksakan kepada tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mata tidak membutuhkan rutinitas yang rumit.
Mulailah dari satu perubahan kecil.
Setiap 20 menit, berhenti sejenak dan lihat jauh.
Besok, perbaiki posisi monitor.
Lusa, kurangi kebiasaan menggunakan smartphone saat istirahat.
Lakukan terus sampai kebiasaan tersebut terasa otomatis.
Karena di era ketika hampir semua aktivitas berada di balik layar, memberikan waktu istirahat kepada mata bukan kemewahan—melainkan bagian dari gaya hidup sehat.