Tubuh dan pikiran sering dianggap sebagai dua hal yang berbeda. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari keduanya terus berinteraksi. Ketika sedang bahagia, seseorang biasanya lebih bersemangat menjalani aktivitas. Sebaliknya, ketika sedang tertekan atau memiliki suasana hati yang buruk, pekerjaan sederhana pun bisa terasa lebih berat.
Menariknya, perubahan mood tidak berhenti pada perasaan. Kondisi emosional dapat memengaruhi kebiasaan makan, kualitas tidur, keinginan untuk bergerak, kemampuan berkonsentrasi, hingga cara seseorang menghadapi tekanan. Dari sinilah pembahasan mengenai pengaruh mood terhadap kesehatan menjadi penting.
Mood atau suasana hati memang bukan penentu tunggal kondisi kesehatan seseorang. Banyak faktor lain yang ikut berperan, seperti genetik, usia, pola makan, aktivitas fisik, lingkungan, penyakit tertentu, kualitas tidur, dan kondisi sosial. Namun, mood dapat memengaruhi perilaku yang dilakukan berulang kali. Jika perilaku tersebut berlangsung dalam waktu lama, dampaknya terhadap kesehatan bisa menjadi semakin terasa.
WHO menjelaskan bahwa stres dapat memengaruhi pikiran sekaligus tubuh. Stres berlebihan dapat berkaitan dengan sulit rileks, mudah tersinggung, kesulitan berkonsentrasi, sakit kepala, gangguan pencernaan, masalah tidur, serta perubahan nafsu makan.
Dengan kata lain, menjaga kesehatan secara optimal tidak cukup hanya dengan memperhatikan kondisi fisik. Kesehatan emosional juga perlu mendapatkan tempat yang sama pentingnya.
Mood Sebenarnya Bisa Berubah karena Banyak Hal
Mood bukan sesuatu yang selalu berada dalam kondisi sama. Suasana hati dapat berubah sepanjang hari dan dipengaruhi berbagai kejadian.
Kurang tidur setelah bekerja sampai larut malam, misalnya, bisa membuat seseorang lebih mudah tersinggung keesokan harinya. Begitu pula ketika sedang menghadapi konflik dengan orang lain, tekanan pekerjaan, masalah keuangan, atau perubahan besar dalam kehidupan.
Sebaliknya, tidur yang cukup, bertemu orang yang disukai, menyelesaikan pekerjaan penting, menikmati hobi, atau mendapatkan waktu untuk beristirahat dapat membuat suasana hati menjadi lebih baik.
Perubahan tersebut merupakan bagian normal dari kehidupan. Yang perlu diperhatikan adalah ketika mood negatif berlangsung terlalu lama atau mulai mengganggu fungsi sehari-hari.
Kesehatan mental sendiri merupakan bagian dari kesejahteraan manusia. WHO menjelaskan bahwa kesehatan mental membantu seseorang menghadapi tekanan kehidupan, mengenali kemampuan diri, belajar, bekerja, dan berkontribusi kepada masyarakat.
1. Mood Buruk Dapat Membuat Tubuh Lebih Sulit Rileks
Ketika pikiran sedang menghadapi tekanan, tubuh dapat ikut berada dalam kondisi waspada.
Seseorang mungkin merasa pikirannya tidak pernah benar-benar berhenti. Bahkan ketika sedang duduk santai, masih ada berbagai persoalan yang terus dipikirkan. Kondisi seperti ini dapat membuat tubuh lebih sulit memasuki keadaan rileks.
Jika berlangsung sesekali, tubuh biasanya dapat kembali menyesuaikan diri. Namun, tekanan yang terus berlangsung dapat membuat seseorang merasa kelelahan secara mental dan fisik.
Itulah mengapa mengelola stres bukan sekadar upaya untuk merasa lebih tenang. Pengelolaan stres juga merupakan bagian dari menjaga kesehatan secara keseluruhan.
WHO menyebut bahwa belajar menghadapi stres dapat membantu seseorang merasa tidak terlalu kewalahan sekaligus mendukung kesehatan mental dan fisik.
2. Suasana Hati Berhubungan dengan Kualitas Tidur
Salah satu hubungan yang paling mudah dirasakan adalah antara mood dan tidur.
Ketika sedang banyak pikiran, seseorang dapat mengalami kesulitan untuk memejamkan mata. Tubuh sudah lelah, tetapi pikiran masih memikirkan berbagai hal.
Masalahnya tidak berhenti di malam hari.
Tidur yang terganggu dapat membuat seseorang bangun dalam keadaan kurang segar. Energi menurun, konsentrasi berkurang, dan emosi menjadi lebih mudah berubah.
Akhirnya, terbentuk sebuah siklus:
mood buruk → pikiran sulit tenang → tidur terganggu → tubuh lelah → mood semakin buruk.
Untuk memutus siklus tersebut, tidur perlu dipandang sebagai bagian dari perawatan kesehatan, bukan sekadar waktu ketika tubuh berhenti beraktivitas.
WHO menyarankan jadwal tidur yang konsisten, lingkungan tidur yang nyaman, serta membatasi penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur sebagai bagian dari kebiasaan tidur yang baik.
3. Mood Bisa Mengubah Cara Seseorang Makan
Pernah tiba-tiba ingin makan sesuatu ketika sedang stres atau bosan?
Hal tersebut cukup umum terjadi. Makanan dapat memberikan rasa nyaman sementara sehingga seseorang mungkin menggunakannya sebagai cara untuk menghadapi emosi tertentu.
Sebaliknya, ada pula orang yang justru kehilangan selera makan ketika sedang menghadapi tekanan.
Dua kondisi tersebut menunjukkan bahwa suasana hati dapat memengaruhi pola makan.
Masalah muncul jika perubahan tersebut menjadi kebiasaan. Seseorang yang terus mencari makanan tinggi gula, garam, atau lemak setiap kali mengalami tekanan dapat mengalami pola makan yang kurang seimbang.
Padahal, WHO menekankan bahwa pola makan sehat perlu memenuhi prinsip kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman. Makanan yang minim proses seperti sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sumber protein dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.
Karena itu, menjaga mood tidak seharusnya dilakukan dengan menjadikan makanan sebagai satu-satunya sumber kenyamanan.
4. Apa yang Dimakan Juga Penting untuk Kesejahteraan Mental
Hubungan antara makanan dan kesehatan mental semakin banyak mendapat perhatian dalam penelitian.
Sebuah meta-analisis yang terbit pada 2026 dan mencakup lebih dari 633 ribu individu dari 23 negara berpendapatan rendah dan menengah menemukan adanya hubungan antara pola makan sehat dengan gejala depresi, kecemasan, dan stres yang lebih rendah. Namun, para peneliti juga menekankan adanya keterbatasan bukti dan kebutuhan penelitian lanjutan, sehingga hasil tersebut tidak boleh dianggap sebagai bukti bahwa makanan tertentu secara langsung menyembuhkan gangguan mental.
Hal yang dapat diambil adalah pentingnya melihat makanan sebagai bagian dari gaya hidup secara keseluruhan.
Tidak perlu mencari satu makanan yang dianggap sebagai “peningkat mood”. Lebih baik membangun pola makan yang beragam dan seimbang.
Menu harian dapat diisi dengan sayuran, buah, sumber protein, kacang-kacangan, biji-bijian, serta sumber karbohidrat yang sesuai kebutuhan tubuh.
5. Mood Buruk Sering Membuat Seseorang Malas Bergerak
Ketika suasana hati sedang tidak baik, keinginan untuk beraktivitas fisik bisa ikut menurun.
Sofa atau tempat tidur terasa jauh lebih menarik daripada berjalan kaki. Bahkan aktivitas sederhana seperti membersihkan kamar atau keluar rumah bisa terasa berat.
Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat tubuh semakin jarang bergerak.
Padahal, aktivitas fisik merupakan salah satu bagian penting dari gaya hidup sehat. WHO menyebut olahraga teratur, termasuk berjalan kaki, sebagai salah satu cara yang dapat membantu mengurangi stres.
Karena itu, tidak perlu menunggu sampai mood benar-benar bagus untuk mulai bergerak.
Berjalan selama beberapa menit, melakukan peregangan, naik turun tangga, membersihkan rumah, atau melakukan aktivitas fisik yang disukai dapat menjadi awal.
Tujuannya bukan langsung mencapai performa olahraga tertentu, tetapi menghindari tubuh terlalu lama berada dalam kondisi pasif.
6. Mood Positif Dapat Membantu Menjaga Rutinitas Sehat
Suasana hati yang lebih baik tidak membuat seseorang otomatis menjadi sehat. Namun, mood yang stabil dapat membuat rutinitas positif lebih mudah dipertahankan.
Ketika energi mental cukup, seseorang mungkin lebih mudah menyiapkan makanan sendiri, berolahraga, menjaga jadwal tidur, bertemu orang lain, dan menyelesaikan pekerjaan.
Sebaliknya, ketika pikiran terus dipenuhi tekanan, rutinitas sederhana pun bisa terasa seperti beban.
Karena itu, salah satu cara menjaga kesehatan adalah membuat kebiasaan sehat menjadi sederhana.
Tidak perlu membuat perubahan ekstrem. Mulai dari sarapan dengan menu yang lebih seimbang, berjalan kaki setelah makan, tidur pada waktu yang relatif sama, atau menyediakan beberapa menit tanpa gangguan untuk beristirahat.
Kebiasaan kecil yang dilakukan konsisten sering kali lebih realistis daripada perubahan besar yang hanya bertahan beberapa hari.
7. Hubungan Sosial Bisa Membantu Menjaga Kondisi Emosional
Manusia bukan makhluk yang dirancang untuk menghadapi semua persoalan sendirian.
Berbicara dengan keluarga, teman, pasangan, atau orang yang dipercaya dapat membantu seseorang mengurangi beban emosional.
Tidak semua percakapan harus berisi solusi. Terkadang, didengarkan saja sudah membuat seseorang merasa lebih lega.
WHO juga menyarankan tetap terhubung dengan keluarga dan teman serta membagikan kekhawatiran kepada orang yang dipercaya sebagai salah satu cara menghadapi stres.
Karena itu, ketika mood sedang buruk, jangan selalu memilih untuk mengisolasi diri.
Memang ada kalanya seseorang membutuhkan waktu sendirian. Namun, jika menarik diri menjadi kebiasaan dan berlangsung lama, hubungan sosial justru dapat semakin berkurang.
8. Terlalu Banyak Informasi Juga Bisa Memengaruhi Mood
Di era digital, menjaga suasana hati menjadi semakin menantang.
Setiap hari seseorang dapat menerima berita, komentar, video, notifikasi, pesan, dan berbagai informasi lain tanpa henti. Tidak semuanya memberikan dampak positif.
Jika seseorang terus mengikuti konten yang memicu kecemasan, kemarahan, atau ketakutan, kondisi emosional dapat ikut terkuras.
WHO bahkan menyarankan membatasi waktu mengikuti berita jika konsumsi informasi tersebut meningkatkan stres.
Karena itu, kesehatan digital juga layak diperhatikan.
Memberikan jeda dari media sosial, mematikan notifikasi yang tidak penting, atau menentukan waktu khusus untuk membaca berita dapat membantu menciptakan ruang mental yang lebih tenang.
9. Jangan Memaksa Diri Selalu Bahagia
Ada kesalahpahaman bahwa menjaga kesehatan mental berarti harus selalu berpikir positif.
Padahal, manusia tetap akan mengalami sedih, kecewa, marah, takut, dan lelah.
Emosi negatif bukan sesuatu yang harus selalu ditekan. Yang lebih penting adalah mengenali emosi tersebut dan memahami penyebabnya.
Memaksakan diri untuk selalu bahagia justru dapat membuat seseorang merasa bersalah ketika sedang mengalami hari yang buruk.
Kesehatan emosional bukan tentang tidak pernah sedih. Kesehatan emosional lebih berkaitan dengan kemampuan menjalani berbagai emosi secara sehat dan tetap menjalankan kehidupan sehari-hari.
10. Kapan Perubahan Mood Perlu Diperhatikan?
Tidak semua perubahan mood berarti seseorang mengalami gangguan mental.
Mood yang berubah karena pekerjaan berat, konflik, kurang tidur, atau kejadian tertentu bisa menjadi respons normal.
Namun, perlu mendapatkan perhatian lebih ketika perubahan tersebut berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Depresi, misalnya, bukan sekadar sedih selama satu atau dua hari. WHO menjelaskan bahwa depresi ditandai suasana hati rendah atau hilangnya minat dan kesenangan dalam aktivitas dalam waktu lama, disertai gejala lain seperti gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, sulit berkonsentrasi, atau perasaan tidak berharga.
Karena itu, jangan terburu-buru mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan perubahan suasana hati.
Jika mood buruk menetap dan mulai mengganggu pekerjaan, sekolah, hubungan sosial, tidur, makan, atau aktivitas harian, berkonsultasi dengan dokter, psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan merupakan langkah yang tepat.
Cara Menjaga Mood agar Tubuh Tetap Optimal
Menjaga mood sebenarnya dapat dimulai dari rutinitas sederhana. Tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sempurna.
Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan antara lain:
Tidur cukup dan teratur.
Jangan terus-menerus mengorbankan waktu tidur demi pekerjaan, hiburan, atau penggunaan gadget.
Makan dengan pola yang seimbang.
Pilih makanan yang beragam dan tidak bergantung pada makanan ultra-proses atau makanan tinggi gula sebagai pelarian emosi. WHO menempatkan keberagaman, keseimbangan, moderasi, dan kecukupan sebagai prinsip utama pola makan sehat.
Tetap bergerak.
Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki tetap lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.
Luangkan waktu untuk melakukan hal yang disukai.
Hobi dapat menjadi ruang untuk beristirahat secara mental.
Jaga hubungan dengan orang lain.
Jangan ragu menghubungi orang yang dipercaya ketika sedang menghadapi tekanan.
Atur konsumsi informasi.
Tidak semua berita atau konten harus dikonsumsi sepanjang hari.
Kenali pemicu mood buruk.
Catat situasi yang sering membuat suasana hati berubah sehingga lebih mudah menemukan cara mengatasinya.
Berikan waktu untuk beristirahat.
Produktivitas tidak harus berarti terus bekerja tanpa jeda.
Kesimpulan
Pengaruh mood terhadap kesehatan ternyata jauh lebih luas daripada sekadar menentukan apakah seseorang sedang merasa senang atau sedih. Suasana hati dapat memengaruhi cara seseorang tidur, makan, bergerak, menghadapi stres, bersosialisasi, dan menjalankan rutinitas sehari-hari.
Karena itu, menjaga kesehatan secara optimal sebaiknya dilakukan dari berbagai sisi. Pola makan bergizi tetap penting, tetapi perlu dilengkapi dengan tidur yang cukup, aktivitas fisik, hubungan sosial yang sehat, pengelolaan stres, serta waktu untuk beristirahat.
Mood buruk sesekali merupakan bagian normal dari kehidupan. Tidak perlu memaksa diri selalu bahagia. Yang lebih penting adalah memahami kondisi diri dan mengambil langkah yang sehat ketika tekanan mulai terasa berat.
Pada akhirnya, merawat tubuh tidak hanya berarti memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh. Merawat kesehatan juga berarti memperhatikan apa yang terjadi di dalam pikiran. Ketika kesehatan fisik dan emosional dijaga secara seimbang, peluang untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat dan optimal pun menjadi semakin besar.